| source: http://sd.keepcalm-o-matic.co.uk/i/keep-calm-and-go-to-orientation-day.png |
Dari tinjauan di atas
dapat dilihat bahwa masa orientasi menjadi sebuah fondasi bagi mahasiswa ke
depannya untuk bersikap, baik fisik maupun intelektual. Artinya masa orientasi
akan menentukan bagaimana worldview
mahasiswa baru tersebut. Samovar (2010:118) mengatakan bahwa worldview menyediakan dasar persepsi dan
realitas seperti yang dialami orang yang bersangkutan. Sampai di sini maka masa
orientasi yang baik akan menciptakan worldview
mahasiswa yang baik, namun kesalahan tata cara masa orientasi akan dapat
menciptakan worldview yang salah
bahkan dapat memunculkan trauma tersendiri bagi mahasiswa tersebut.
Worldview merupakan hal penting, karena dengan worldview-lah seseorang mengamati, memahami dan meyakini
kejadian-kejadian yang dialaminya. Worldview
cenderung sulit diubah karena di dalamnya terletak fondasi kepercayaan yang
diyakininya. Seorang Kristen tidak akan pernah merasa beban mengonsumsi babi
sebagai makanannya karena memang tidak ada keyakinan bahwa babi itu haram dan
dilarang untuk dimakan. Hal tersebut tentu berbeda dengan Muslim yang mempunyai
keyakinan bahwa babi haram dan tidak boleh dimakan. Kondisi tersebut bukanlah
benar-salah – karena keyakinan sangatlah subjektif dan memang tidak bisa
disalahkan.
Kecenderungannya
adalah masa orientasi menjadi ajang balas dendam dari panitia pelaksana (yang
umumnya adalah mahasiswa senior) kepada para mahasiswa baru sebagai junior
mereka. Balas dendam karena merasa diperlakukan sama oleh seniornya terdahulu
pada masa orientasi sebelumnya. Dari tahun ke tahun mungkin kecenderungannya
semakin berkurang, namun belum mampu dihilangkan sama sekali dalam masa
orientasi. Sadar atau tidak, masa orientasi lantas kemudian membentuk sebuah worldview – mungkin bukan hanya saat
masa studi, melainkan bisa sepanjang hidup.
Masa orientasi – lewat
para pelaksananya – adalah penentu baik-buruk, benar-salah bagi mahasiswa
pesertanya. Misalkan jika berteriak dan membentak diperbolehkan untuk sebuah
kesalahan peserta maka akan terkonsepsi bahwa merekapun nantinya boleh
berteriak dan membentak kepada juniornya nanti – atau bahkan kepada orang-orang
yang secara status sosial lebih rendah dari mereka. Pelaksanaan masa orientasi
dengan konsep seperti ini akan menjadi sebuah lingkaran setan yang tiada berkesudahan.
Unsur penindasan dan hegemoni senior terhadap junior akan menjadi materai
tersendiri bagi para peserta orientasi. Mereka akan beranggapan bahwa hal
tersebut benar dan boleh dilakukan kelas kepada junior mereka nantinya.
Masa orientasi
seharusnya digunakan untuk benar-benar memperkenalkan kampus, juga
mempersiapkan mahasiswa baru untuk masuk dalam lingkungan intelektual dan
akademis. Membiasakan mahasiswa berpikir rasional dan kritis. Sangat
disayangkan para mahasiswa menjadi paradox tersendiri akan cita-cita dan
perjuangan mereka. Saat mahasiswa berhasil menumbangkan sebuah rezim – Orde
Lama dan Orde Baru – yang mereka lawan adalah sebuah otorianisme yang
berlawanan dengan semangat demokrasi.
Mahasiswa berhasil
menumbangkan sebuah rezim di luar mereka, namun gagal menghentikan ‘rezim’ masa
orientasi di dalam tubuh mereka sendiri. Padahal jika mau, mahasiswa harusnya
mampu memutus lingkaran setan tersebut karena pada tahun 1998 – 2000 cukup
banyak kampus yang tidak melaksanakan kegiatan orientasi dikarenakan euforia
reformasi. Saat itulah seharusnya rantai hegemoni senior-junior diputuskan.
Masa orientasi
selayaknya harus dilakukan dengan konsep akademis dan nilai-nilai humanisme.
Kegiatan harusnya bersifat akademis yang mengajarkan serta membiasakan mahasiswa
baru berpikir intelek – dan bukan memakai atribut-atribut konyol yang tidak ada
hubungannya dengan pelaksanaan studi nantinya. Mahasiswa baru seharusnya
diperkenalkan secara mendalam bagaimana mereka akan melaksanakan kegiatan
akademis nantinya – topik-topik perkuliahan, buku-buku yang dipakai,
tokoh-tokoh dari bidang ilmu tersebut.
Mahasiswa baru juga
diperkenalkan masing-masing unit kegiatan mahasiswa dan apa kegunaannya nanti
sebagai penunjang kegiatan akademis mereka. Adakan diskusi-diskusi ilmiah,
adakan debat ilmiah, adakan bedah buku, adakan forum kajian karya tokoh, dan
masih banyak lagi yang bisa dikerjakan selain acara games konyol dengan atribut-atribut aneh dengan alasan melatih
kekompakan, mentalitas dan sebagainya.
Cukup sudah pembodohan
dilakukan. Orientasi mahasiswa dalam format dan bentuk lama hanya akan menghina
intelektualitas kita semua dan mencoreng reputasi universitas yang
bersangkutan. Kedisiplinan tidak harus tercipta setelah dimaki-maki. Mental
mahasiswa bukan mental budak apalagi kuda yang akan bekerja jika dipecut dan
diteriaki. Jika tidak sekarang, mungkin kita tidak akan pernah benar-benar bisa
belajar dari kesalahan dan pengalaman.
No comments:
Post a Comment