Tuesday, December 15, 2015

Ngajak orangtua ke kampus? Mahasiswa atau mahamanja?

image source: http://www.mypalmbeachdivorce.com/2011/03/01/divorcing-couples-and-the-special-needs-child/
Minggu lalu, saya kedatangan seorang mahasiswa yang membawa ibunya ke kampus untuk mengajukan permohonan pindah kelas si anak. Dari laporan mereka, diketahui bahwa si mahasiswa ingin pindah kelas karena tidak dapat bekerja sama dalam tugas kelompok. Si mahasiswa bersikeras untuk pindah kelas atau pilihan lainnya: berhenti kuliah.

Kebetulan mahasiswa ini juga ikut salah satu kelas saya. Wah, saya jadi merasa harus berdiskusi dengan mahasiswa dan orangtuanya tersebut. Saya bilang pada mereka bahwa tidak ada jaminan jika si anak pindah kelas maka masalah akan selesai. Bisa jadi mungkin masalah tetap akan ada atau bahwa lebih parah, karena kondisi tiap kelas tentu berbeda.

Saya menyampaikan bahwa aktivitas tugas kelompok memang menjadi bagian dari pembelajaran mahasiswa agar nantinya mahasiswa mempunyai mental ‘team work’ yang baik. Toh dalam dunia kerja nantinya, kita tak bisa memilih siapa yang menjadi bos atau rekan kerja kita. Saya bahwa selalu menentukan kelompok secara random untuk melatih mental tersebut. Suka atau tidak suka dengan sebuah ‘team work’ – tugas tetap harus jalan!

Oke, lupakan dulu masalah ‘team work’. Bukan itu fokus saya kali ini. Pertanyaan saya kali ini adalah ‘kenapa mahasiswa sampai membawa orangtuanya ke kampus untuk sebuah masalah yang seharusnya dapat mereka selesaikan sendiri?’

Bukan sekali dua kali saya mengalami hal ini. Banyak mahasiswa mengajak orangtua mereka ke kampus untuk menyelesaikan masalah yang seharusnya menjadi tanggung jawab individu mahasiswa itu sendiri. Mulai dari masalah absensi, bingung menentukan jurusan, revisi skripsi yang tak kunjung selesai, sampai masalah konflik dengan teman sekelas.

Muncul pertanyaan selanjutnya, ‘Lantas di mana sisi kedewasaan mahasiswa?’ Saya selalu menganggap bahwa mahasiswa adalah manusia dewasa yang harus diperlakukan berbeda dengan pelajar SMA. Mahasiswa merupakan manusia dewasa yang sudah dapat bertanggung jawab dan konsekuen pada pilihannya. Manusia yang mampu menentukan mana prioritas terpenting dalam hidupnya.

Jika dulu saya risih jika orangtua saya ke kampus – jelas malu jika dibilang ‘anak mama’ – maka hal tersebut berbeda 180” dengan mahasiswa jaman sekarang yang sedikit-sedikit merengek agar orangtuanya datang ke kampus dan membantu menyelesaikan masalah mereka. Sampai di sini saya jelas merasa terganggu dengan model mahasiswa seperti ini. Mahasiswa yang bagi saya tak akan siap untuk dilepas nantinya ke masyarakat. Mahasiswa yang tak akan pernah bisa bersaing di industri pekerjaan mereka. Itupun syukur jika ada yang sampai mau memberikan mereka pekerjaan!

Apa bedanya mahasiswa dengan pelajar SMA? Jelas dari namanya saja mereka sudah menambahkan kata ‘maha’ di depan siswa yang menurut KBBI artinya sangat atau besar. Jadi jelaslah bahwa mahasiswa itu levelnya ‘beyond’ dari siswa biasa. Dari sisi tanggung jawab, mahasiswa telah diberikan tanggung jawab lebih dari siswa biasa. Jika saat masih menjadi siswa haram yang namanya ditatto, kuping ditindik, rambut gondrong atau gimbal, dan juga merokok – maka saat menjadi mahasiswa sah-sah saja selama mereka berani bertanggung jawab atas semua pilihannya itu. Toh semua larangan bagi siswa itu tak ada dasar hukum positifnya.

Saya termasuk terbuka untuk mahasiswa yang melakukan hal-hal tersebut. Bagi saya toh itulah serunya masa kuliah. Mau kupingnya ditindik pake paku beton juga terserah, selama berlaku sopan. Mau merokok sekaligus lima juga terserah, selama itu tak dilakukan saat jam pelajaran. Mau dandan menor juga boleh-boleh saja selama nilai akademisnya cemerlang. Itulah bagi saya sebuah kedewasaan – tanggung jawab dan konsekuen pada sebuah pilihan. Tentu akan lain cerita jika seorang mahasiswa itu tattoan, tindikan, merokok, tapi sikapnya tidak sopan, malas dan buruk nilai akademisnya.

Jadi bagi saya, mahasiswa yang mengajak orangtuanya ke kampus untuk hal-hal kecil tak lebih levelnya dari seorang siswa TK yang masih selalu bergantung pada orangtua. Hanya badan dan usianya saja yang gede, namun mentalnya masih anak-anak dan tidak cocok menjadi mahasiswa. Mahasiswa model begini tak akan pernah punya ‘fighting spirit’ untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tak punya kreativitas untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka.

Kesuksesan dalam pandangan saya adalah sebuah keseimbangan antara kehidupan akademis dengan kehidupan sosial. Tau kapan waktunya belajar, kapan waktunya main, kapan waktunya pacaran. Maka jangan harap mahasiswa model begini akan pernah bisa sukses…

Wednesday, May 6, 2015

Teknologi & Free Will

sumber: http://static.guim.co.uk/sys-images/Guardian/Pix/pictures/2013/12/2/1386002179310/Mobile-phone-bills-008.jpg
Gara-gara nonton film The Gambler yang diperankan oleh Mark Wahlberg, saya jadi terinspirasi menjalankan satu adegan dalam film tersebut. Dalam film tersebut, saat Mark mengajar di depan kelas ada mahasiswa yang asyik mainan handphone. Mark mendekat dan mengambil handphone tersebut agar mahasiswa tersebut memperhatikannya (entah kemudian dikembalikan atau tidak ^_^).

Saya juga sering mengalami hal yang sama. Saat sedang mengajar, ada saja mahasiswa yang memainkan handphone-nya. Entah mungkin bosan, entah materi perkuliahan saya yang tidak menarik, atau sebab lain...

Selasa kemarin (5 Mei 2015), saya mencoba melakukan hal yang sama. Pada tiga puluh menit pertama, ada mahasiswa yang asyik mainan handphone-nya dan ia kebetulan duduk di baris pertama. Saya ambil handphone-nya dan ia cukup kaget dengan tindakan saya tersebut namun tidak dapat berbuat apa-apa – seluruh kelas menyaksikannya.

Namun tampaknya hal itu tak membuat pelajaran buat beberapa - temannya yang lain. Saya mengambil – untuk keduakalinya – handphone seorang mahasiswa lain yang juga asyik memainkan handphone-nya. Ketika kelas berakhir, total ada tiga handphone yang saya “sita” dan saya jejerkan di meja dosen. Semua handphone tersebut saya kembalikan saat perkuliahan berakhir.

***

Dari semua mahasiswa yang saya “sita” handphone-nya, saya ketahui nilai akademis mereka tidak cukup baik. Saat UTS kemarin, nilainya juga masih di bawah rata-rata (baca: buruk!).

Handphone – dalam hal ini teknologi – itu bagaikan sebuah pisau. Kita dapat mempergunakannya untuk kebaikan, tapi juga bisa kita gunakan untuk hal-hal negatif. Jangan disalahkan pisaunya – jangan disalahkan teknologinya. Teknologi juga dapat sangat membantu mereka untuk desk research tugas-tugas perkuliahan, tapi juga bisa membuat konsentrasi mereka buyar yang mengakibatkan nilai akademis mereka buruk.

Sekali lagi, semuanya tergantung kita. It’s a FREE WILL! Mahasiswa sudah seharusnya lebih bijak daripada siswa SMA – kan sudah MAHA. Ke depannya saya tidak akan segan-segan melakukan hal serupa – bahkan jika kalian mainan tab atau laptop saat jam perkuliahan saya...

Tuesday, February 10, 2015

DOSEN JUGA MANUSIA

Tak terasa, saya telah menekuni profesi sebagai dosen selama hampir lima tahun. Dua tahun sebagai dosen part-time dan dua setengah tahun sebagai dosen full-time. Artinya saya adalah karyawan dari sebuah universitas dan harus hadir setiap hari dengan jam kerja yang telah ditentukan – seperti karyawan kantoran pada umumnya.

Selama itu pulalah saya telah berhubungan dengan banyak mahasiswa. Ada yang baik, sangat sopan bahkan cenderung lebay. Namun tak sedikit pula yang cuek, bahkan seringkali jutek mungkin karena mendapat nilai rendah dari saya. Selama itu pula saya tak pernah menanggapi serius secara personal. Sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu mereka semua dalam hal akademis.

Saat saya memutuskan untuk full-time menjadi dosen, salah satu alasan terkuat adalah saya ingin pulang kerja lebih jelas (baca: lebih cepat) daripada saat bekerja di agency. Namun tidak jarang pula beberapa mahasiswa mengontak saya di luar jam perkuliahan guna mendiskusikan hal-hal tertentu. Jika sedang ada waktu luang tentu saya akan tanggapi. Ya namun perlu diingat, dosen juga manusia. Saya bisa lelah, suntuk – bahkan galau! Bisa juga sedang mengurus keluarga – main dengan anak atau membantu anak mengerjakan PR. Artinya saya harus dapat membagi waktu saya. Tak semua dapat saya berikan buat mahasiswa. Istilah lainnya: ‘saya juga punya kehidupan lain di luar kehidupan sebagai dosen’.

Di satu sisi – entah karena keterpaksaan atau karena ketidaksabaran – mahasiswa seringkali mengontak saya untuk masalah akademis pada waktu yang tidak tepat. Etika seringkali terlupakan dan dosen sering dianggap sebagai deodorant – harus ‘setia setiap saat’. Berikut adalah beberapa pengalaman yang pernah saya alami sendiri:


1. KENALAN DULU DOOONG!!!


Saya mungkin masih mampu mengenali mahasiswa saya lewat wajahnya. Namun jangan beranggapan saya menyimpan semua nomor ponsel mahasiswa di phone book saya. Jadi sebaiknya sebelum mahasiswa mengutarakan maksudnya, ya sebutkan dulu nama dan kelasnya – NIM juga boleh walau gak ngefek banget.













2. DOSEN BUKAN 7-ELEVEN YANG BUKA 24 JAM



Saya juga manusia, butuh istirahat seperti manusia normal lainnya. Dulu mungkin saya cukup kuat begadang saat kerja di agency. Namun entah kenapa sekarang saya cepat mengantuk. Jadi sebaiknya batasi jam mengontak saya sebelum jam 9 malam, karena saya bukan 7-ELEVEN dan tidak OPEN 24HRS.
















3. DOSEN JUGA BUTUH LIBURAN




Saat weekend atau hari libur lainnya, mungkin saya juga punya kegiatan pribadi. Mungkin bersepeda, berkebun ataupun liburan bersama keluarga. Saat itu saya biasanya paling malas dihubungi mahasiswa, apalagi untuk hal yang seharusnya masih bisa ditunda. Bukannya sombong sih, tapi kan saya berarti juga beranggapan mahasiswa butuh liburan… :D













4. TUGAS DOSEN BUKAN HANYA MEMBIMBING MAHASISWA

Beberapa mahasiswa menganggap bahwa tugas seorang dosen adalah mengajar dan mengajar – bimbingan skripsi atau bimbingan magang saja. Padahal semua dosen – termasuk saya – juga masih punya tugas-tugas lain yang tidak kalah pentingnya. Kami harus melakukan penelitian, melakukan pengabdian kepada masyarakat dan juga mengurus hal-hal lain yang bersifat administratif lainnya. Mungkin beberapa mahasiswa beranggapan bahwa pekerjaan mereka lebih penting dari pekerjaan si dosen, namun percayalah dosen juga punya pekerjaan penting. Dan satu lagi, dosen juga butuh makan siang – sama seperti orang kantoran pada umumnya…


Nothing personal… Kalo mahasiswa ingin dihargai oleh dosennya, ya cobalah untuk menghargai pula dosennya. Sebuah hal sederhana yang kadang terlupakan…