Tuesday, December 11, 2012

Menyebarkan Pluralisme Melalui Mata Kuliah Komunikasi Antarbudaya



Beragam argumen pro-kontra tentang pluralisme yang muncul dalam berbagai wacana – baik dalam diskusi publik ataupun social media – membuat saya hanya bisa mengurut dada. Semua pihak merasa benar dan pihak lain salah. Kebenaran diklaim menjadi milik segelintir golongan saja, sementara golongan lain di luar itu sangat mungkin dimusuhi, bahkan diperangi.

Saya sendiri beranggapan bahwa pluralisme lebih dari sekedar toleransi dan hidup berdampingan belaka. Pluralisme harusnya mampu lebih dari itu. Dalam pluralisme harusnya tercipta dialog dan juga kerjasama untuk tujuan yang sama tanpa memandang perbedaan yang ada. Jadi dalam pluralisme yang dikedepankan adalah kerjasamanya dan bukan perbedaannya.

Sayangnya, masih banyak sebagian besar dari kita masih beranggapan pluralisme adalah toleransi ataupun saling menghormati satu sama lain. Pluralisme menjadi pasif dan tidak menghasilkan apa-apa karena semua pihak hanya saling diam. Padahal harusnya pluralisme harus menjadi kata kerja aktif dan mampu menghasilkan sesuatu selain hanya rasa aman dan damai. Pluralisme harus mampu melahirkan sebuah sistem yang saling bekerja satu sama lain untuk kepentingan dan tujuan yang sama dan jika salah satunya diam maka tujuan tersebut tidak dapat terwujudkan.

***

Semester ini – untuk kali pertama – saya berkesempatan untuk mengajar mata kuliah “KOMUNIKASI ANTARBUDAYA”. Sebuah mata kuliah wajib Fakultas Ilmu Komunikasi yang berarti setiap mahasiswa FIKOM wajib mengikutinya – tidak perduli apa jurusannya. Di kampus ini, mata kuliah KAB diajarkan pada semester tiga, saat para mahasiswa telah setahun menjalani kehidupan kampus dan bergaul dengan mahasiswa lain yang tentunya lebih heterogen dibandingkan dengan masa SMA.

          Pada mata kuliah KAB ini, kita mempelajari bagaimana konflik-konflik yang terjadi akibat perbedaan budaya yang ada di dunia ini. Konflik yang telah banyak menjadi sejarah kelam peradaban dunia. Konflik yang sesungguhnya tidak perlu terjadi jika umat manusia mau lebih mengenal satu sama lain. Melalui mata kuliah KAB juga dipejari bagaimana manajemen konflik dalam proses KAB. Konflik memang tidak mungkin dihilangkan sama sekali, tetapi bisa diminalisir jika kita tau bagaimana menyikapinya.

          Mempelajari KAB berarti kita mempelajari hal-hal unik yang ada pada budaya berbeda. Kita membuka wawasan dan saling berbagi hal-hal yang sebelumnya hanya kita bagi kepada kelompok sendiri saja. Seperti yang diucapkan oleh Confusius bahwa sesungguhnya sifat manusia itu sama secara alamiah, namun kebiasaan juga tradisilah yang kemudian membuat berbeda, terpisah bahkan bermusuhan. Bukan karena memang saling membenci pada awalnya, namun lebih sering diakibatkan karena ketidaktahuan dan kurangnya komunikasi.

***

          Sesungguhnya kebahagiaan bagi saya mengajarkan mata kuliah KAB ini karena melalui KAB inilah saya dapat membagikan paham pluralisme secara lebih ilmiah dan dalam bingkai akademis yang lebih jelas. Di dalam kelas saya bisa menyebutkan etnis Cina, Jawa, Arab dan sebagainya tanpa harus merasa takut akan ada yang tersinggung – karena memang merupakan hal-hal yang harus dipelajari bersama. Melalui mata kuliah ini, para mahasiswa juga belajar mengenali diri mereka sendiri melalui tradisi dan budaya yang seringkali mereka lupakan.  Dan tentunya melalui mata kuliah ini, para mahasiswa belajar dan dapat menghindari sisi gelap dari budaya seperti prasangka, etnosentrisme bahkan rasisme.

           Melalui mata kuliah ini kita semua sadar bahwa kita semua adalah sama sebagai ras manusia. Mempunyai hak yang sama dan mempunyai kewajiban yang sama untuk menghormati hak-hak pihak lain. Dalam kelas kita melupakan segala perbedaan etnis, agama dan kelompok untuk dapat mewujudkan tujuan bersama melalui diskusi dan juga tanya jawab. Bahkan seringkali mahasiswa membawa masalah pribadi mereka untuk menjadi studi kasus seperti kos dengan etnis/agama yang berbeda atau bahkan berpacaran dengan yang berbeda etnis/agama.

            Tidak ada benar salah dan tidak ada penyelesaian instan melalui apa yang kita pelajari. Setiap pihak mempunyai keunikan budaya masing-masing dan tidak dapat dipaksakan satu sama lain. Namun demikian, pemahaman tentang budaya pihak lain menjadi bahan diskusi yang baik dan dengan demikian menjadi suatu antisipasi sikap akan suatu perbedaan.

            Saya berharap, suatu saat nanti mata kuliah KAB ini tidak hanya menjadi mata kuliah wajib fakultas tetapi juga menjadi mata kuliah wajib universitas seperti Pancasila dan Kewarganegaraan. Agar kita semua bisa mempelajari budaya satu sama lain. Setelahnya, diharapkan bukan hanya saling memaklumi... tetapi bersama bergenggaman tangan membentuk suatu formasi yang indah demi terwujudnya perdamaian dunia...


***

No comments:

Post a Comment