Beragam argumen pro-kontra tentang
pluralisme yang muncul dalam berbagai wacana – baik dalam diskusi publik
ataupun social media – membuat saya hanya bisa mengurut dada. Semua pihak
merasa benar dan pihak lain salah. Kebenaran diklaim menjadi milik segelintir
golongan saja, sementara golongan lain di luar itu sangat mungkin dimusuhi,
bahkan diperangi.
Saya sendiri beranggapan bahwa
pluralisme lebih dari sekedar toleransi dan hidup berdampingan belaka.
Pluralisme harusnya mampu lebih dari itu. Dalam pluralisme harusnya tercipta
dialog dan juga kerjasama untuk tujuan yang sama tanpa memandang perbedaan yang
ada. Jadi dalam pluralisme yang dikedepankan adalah kerjasamanya dan bukan
perbedaannya.
Sayangnya, masih banyak sebagian
besar dari kita masih beranggapan pluralisme adalah toleransi ataupun saling
menghormati satu sama lain. Pluralisme menjadi pasif dan tidak menghasilkan
apa-apa karena semua pihak hanya saling diam. Padahal harusnya pluralisme harus
menjadi kata kerja aktif dan mampu menghasilkan sesuatu selain hanya rasa aman
dan damai. Pluralisme harus mampu melahirkan sebuah sistem yang saling bekerja
satu sama lain untuk kepentingan dan tujuan yang sama dan jika salah satunya
diam maka tujuan tersebut tidak dapat terwujudkan.
***
Semester ini – untuk kali pertama –
saya berkesempatan untuk mengajar mata kuliah “KOMUNIKASI ANTARBUDAYA”. Sebuah
mata kuliah wajib Fakultas Ilmu Komunikasi yang berarti setiap mahasiswa FIKOM
wajib mengikutinya – tidak perduli apa jurusannya. Di kampus ini, mata kuliah
KAB diajarkan pada semester tiga, saat para mahasiswa telah setahun menjalani
kehidupan kampus dan bergaul dengan mahasiswa lain yang tentunya lebih heterogen
dibandingkan dengan masa SMA.
Pada
mata kuliah KAB ini, kita mempelajari bagaimana konflik-konflik yang terjadi
akibat perbedaan budaya yang ada di dunia ini. Konflik yang telah banyak
menjadi sejarah kelam peradaban dunia. Konflik yang sesungguhnya tidak perlu
terjadi jika umat manusia mau lebih mengenal satu sama lain. Melalui mata
kuliah KAB juga dipejari bagaimana manajemen konflik dalam proses KAB. Konflik
memang tidak mungkin dihilangkan sama sekali, tetapi bisa diminalisir jika kita
tau bagaimana menyikapinya.
Mempelajari
KAB berarti kita mempelajari hal-hal unik yang ada pada budaya berbeda. Kita
membuka wawasan dan saling berbagi hal-hal yang sebelumnya hanya kita bagi
kepada kelompok sendiri saja. Seperti yang diucapkan oleh Confusius bahwa
sesungguhnya sifat manusia itu sama secara alamiah, namun kebiasaan juga
tradisilah yang kemudian membuat berbeda, terpisah bahkan bermusuhan. Bukan
karena memang saling membenci pada awalnya, namun lebih sering diakibatkan
karena ketidaktahuan dan kurangnya komunikasi.
***
Sesungguhnya
kebahagiaan bagi saya mengajarkan mata kuliah KAB ini karena melalui KAB inilah
saya dapat membagikan paham pluralisme secara lebih ilmiah dan dalam bingkai
akademis yang lebih jelas. Di dalam kelas saya bisa menyebutkan etnis Cina,
Jawa, Arab dan sebagainya tanpa harus merasa takut akan ada yang tersinggung –
karena memang merupakan hal-hal yang harus dipelajari bersama. Melalui mata
kuliah ini, para mahasiswa juga belajar mengenali diri mereka sendiri melalui
tradisi dan budaya yang seringkali mereka lupakan. Dan tentunya melalui mata kuliah ini, para
mahasiswa belajar dan dapat menghindari sisi gelap dari budaya seperti prasangka,
etnosentrisme bahkan rasisme.
Melalui
mata kuliah ini kita semua sadar bahwa kita semua adalah sama sebagai ras
manusia. Mempunyai hak yang sama dan mempunyai kewajiban yang sama untuk
menghormati hak-hak pihak lain. Dalam kelas kita melupakan segala perbedaan
etnis, agama dan kelompok untuk dapat mewujudkan tujuan bersama melalui diskusi
dan juga tanya jawab. Bahkan seringkali mahasiswa membawa masalah pribadi mereka
untuk menjadi studi kasus seperti kos dengan etnis/agama yang berbeda atau
bahkan berpacaran dengan yang berbeda etnis/agama.
Tidak
ada benar salah dan tidak ada penyelesaian instan melalui apa yang kita
pelajari. Setiap pihak mempunyai keunikan budaya masing-masing dan tidak dapat
dipaksakan satu sama lain. Namun demikian, pemahaman tentang budaya pihak lain
menjadi bahan diskusi yang baik dan dengan demikian menjadi suatu antisipasi
sikap akan suatu perbedaan.
Saya
berharap, suatu saat nanti mata kuliah KAB ini tidak hanya menjadi mata kuliah
wajib fakultas tetapi juga menjadi mata kuliah wajib universitas seperti
Pancasila dan Kewarganegaraan. Agar kita semua bisa mempelajari budaya satu
sama lain. Setelahnya, diharapkan bukan hanya saling memaklumi... tetapi
bersama bergenggaman tangan membentuk suatu formasi yang indah demi terwujudnya perdamaian dunia...
***
