![]() |
| sumber: http://static.guim.co.uk/sys-images/Guardian/Pix/pictures/2013/12/2/1386002179310/Mobile-phone-bills-008.jpg |
Gara-gara nonton film The Gambler yang
diperankan oleh Mark Wahlberg, saya jadi
terinspirasi menjalankan satu adegan dalam film tersebut. Dalam film tersebut,
saat Mark mengajar di depan kelas ada mahasiswa yang asyik mainan handphone.
Mark mendekat dan mengambil handphone tersebut agar mahasiswa tersebut memperhatikannya
(entah kemudian dikembalikan atau tidak ^_^).
Saya juga sering mengalami hal yang sama.
Saat sedang mengajar, ada saja mahasiswa yang memainkan handphone-nya.
Entah mungkin bosan, entah materi perkuliahan saya yang tidak menarik, atau
sebab lain...
Selasa kemarin (5 Mei 2015), saya mencoba
melakukan hal yang sama. Pada tiga puluh menit pertama, ada mahasiswa yang
asyik mainan handphone-nya dan ia kebetulan duduk di baris pertama. Saya ambil
handphone-nya dan ia cukup kaget dengan tindakan saya tersebut namun tidak
dapat berbuat apa-apa – seluruh kelas menyaksikannya.
Namun tampaknya hal itu tak membuat
pelajaran buat beberapa - temannya yang lain. Saya mengambil – untuk keduakalinya
– handphone seorang mahasiswa lain yang juga asyik memainkan handphone-nya.
Ketika kelas berakhir, total ada tiga handphone yang saya “sita” dan saya
jejerkan di meja dosen. Semua handphone tersebut saya kembalikan saat
perkuliahan berakhir.
***
Dari semua mahasiswa yang saya “sita”
handphone-nya, saya ketahui nilai akademis mereka tidak cukup baik. Saat UTS kemarin,
nilainya juga masih di bawah rata-rata (baca: buruk!).
Handphone – dalam hal ini teknologi – itu bagaikan
sebuah pisau. Kita dapat mempergunakannya untuk kebaikan, tapi juga bisa kita
gunakan untuk hal-hal negatif. Jangan disalahkan pisaunya – jangan disalahkan
teknologinya. Teknologi juga dapat sangat membantu mereka untuk desk research
tugas-tugas perkuliahan, tapi juga bisa membuat konsentrasi mereka buyar yang
mengakibatkan nilai akademis mereka buruk.
Sekali lagi, semuanya tergantung kita. It’s
a FREE WILL! Mahasiswa sudah seharusnya lebih bijak daripada siswa SMA – kan sudah
MAHA. Ke depannya saya tidak akan segan-segan melakukan hal serupa – bahkan jika
kalian mainan tab atau laptop saat jam perkuliahan saya...
