Wednesday, May 6, 2015

Teknologi & Free Will

sumber: http://static.guim.co.uk/sys-images/Guardian/Pix/pictures/2013/12/2/1386002179310/Mobile-phone-bills-008.jpg
Gara-gara nonton film The Gambler yang diperankan oleh Mark Wahlberg, saya jadi terinspirasi menjalankan satu adegan dalam film tersebut. Dalam film tersebut, saat Mark mengajar di depan kelas ada mahasiswa yang asyik mainan handphone. Mark mendekat dan mengambil handphone tersebut agar mahasiswa tersebut memperhatikannya (entah kemudian dikembalikan atau tidak ^_^).

Saya juga sering mengalami hal yang sama. Saat sedang mengajar, ada saja mahasiswa yang memainkan handphone-nya. Entah mungkin bosan, entah materi perkuliahan saya yang tidak menarik, atau sebab lain...

Selasa kemarin (5 Mei 2015), saya mencoba melakukan hal yang sama. Pada tiga puluh menit pertama, ada mahasiswa yang asyik mainan handphone-nya dan ia kebetulan duduk di baris pertama. Saya ambil handphone-nya dan ia cukup kaget dengan tindakan saya tersebut namun tidak dapat berbuat apa-apa – seluruh kelas menyaksikannya.

Namun tampaknya hal itu tak membuat pelajaran buat beberapa - temannya yang lain. Saya mengambil – untuk keduakalinya – handphone seorang mahasiswa lain yang juga asyik memainkan handphone-nya. Ketika kelas berakhir, total ada tiga handphone yang saya “sita” dan saya jejerkan di meja dosen. Semua handphone tersebut saya kembalikan saat perkuliahan berakhir.

***

Dari semua mahasiswa yang saya “sita” handphone-nya, saya ketahui nilai akademis mereka tidak cukup baik. Saat UTS kemarin, nilainya juga masih di bawah rata-rata (baca: buruk!).

Handphone – dalam hal ini teknologi – itu bagaikan sebuah pisau. Kita dapat mempergunakannya untuk kebaikan, tapi juga bisa kita gunakan untuk hal-hal negatif. Jangan disalahkan pisaunya – jangan disalahkan teknologinya. Teknologi juga dapat sangat membantu mereka untuk desk research tugas-tugas perkuliahan, tapi juga bisa membuat konsentrasi mereka buyar yang mengakibatkan nilai akademis mereka buruk.

Sekali lagi, semuanya tergantung kita. It’s a FREE WILL! Mahasiswa sudah seharusnya lebih bijak daripada siswa SMA – kan sudah MAHA. Ke depannya saya tidak akan segan-segan melakukan hal serupa – bahkan jika kalian mainan tab atau laptop saat jam perkuliahan saya...