Saturday, May 10, 2014

Tentang Mengoreksi dan Menilai


Dari semua semua tugas dosen – mengajar, penelitian dan pengabdian pada masyarakat – saya merasa yang terberat adalah dalam bagian mengoreksi dan menilai tugas serta ujian. Bagian ini masuk dalam tugas mengajar dosen.

Kenapa demikian? Karena sebagai dosen yang telah sekian lama berinteraksi dengan para mahasiswanya tentu saya juga memiliki unsur subjektivitas dalam penilaian. Padahal dalam mengoreksi dan menilai, unsur objektivitas adalah unsur wajib yang tidak bisa ditinggalkan. Saya tentunya tahu siapa mahasiswa yang baik dan mana yang sering nakal – mana yang rajin dan mana yang malas. Tidak dipungkiri ada mahasiswa yang jadi favorit dosen dan ada juga mahasiswa yang menyebalkan dosen.

Namun demikian, sebuah nilai akademis harusnya benar-benar murni adalah kemampuan akademis mahasiswa. Nakal dan malas harusnya tidak masuk dalam kemampuan akademis, namun bisa dijadikan nilai tambahan – tapi bukan unsur utama. Jika memang seorang mahasiswa mempunyai kemampuan akademis yang baik – walaupun ia termasuk nakal dan malas – maka sudah selayaknya ia mendapat nilai akademis yang sesuai dengan kemampuannya.

Nilai akhir dalam sebuah mata kuliah terdiri dari tiga elemen utama yaitu: nilai tugas, nilai UTS dan nilai UAS. Pembobotan standar dari tiga elemen tersebut adalah: 30% untuk tugas, 30% untuk nilai UTS dan 40% untuk nilai UAS. Namun pembobotan tersebut dapat disesuaikan dengan jenis mata kuliah tersebut. Misalkan untuk mata kuliah yang bersifat praktikal, pembobotan untuk tugas bisa mencapai 50% karena yang dibutuhkan adalah banyaknya praktik dan bukan banyaknya menghafal. Sedangkan untuk UTS dan UAS masing-masing mempunyai bobot 25%.

Dalam hal mengoreksi jawaban ujianpun, seorang dosen harus mempunyai kemampuan untuk mempertahankan ‘mood’-nya. Dengan asumsi seorang dosen minimal mengampu dua kelas yang masing-masing berisi empat puluh anak, maka akan ada sekitar delapan puluh lembar jawaban essay yang berisi beraneka-ragam jenis tulisan tangan mahasiswa. Dari mulai yang sangat jelas terbaca, membuat sakit kepala saat membacanya, sampai tebak-tebakan menerka apa isi tulisan mahasiswa tersebut saking sulit dibacanya. Yeah... kami kan dosen, bukan paranormal. :D

Jika ‘mood’ tidak bisa terjaga dengan baik, maka yakinlah bahwa nilai akan diberikan sekenanya – dan jelas hal ini merugikan mahasiswa. Yang harusnya baik bisa jadi jelek – yang jelek bisa jadi baik. Bahkan jika memungkinkan, sebaiknya mengoreksi harus dilakukan dalam waktu yang tidak terputus – minimal satu kelas dapat terselesaikan dalam satu kali koreksi. Dan jujur saja, di sela-sela mengoreksi pasti ada saja distraksi seperti cek email atau media sosial. Hal tersebut membuat tidak fokus dan tentunya memperlambat waktu koreksi. Jadi, komitmen dalam mengoreksi harus jelas: fokus!

Mungkin sebaiknya lembar jawaban ujian tidak perlu mencantumkan nama mahasiswa – cukup NIM saja – seperti yang saya alami saat kuliah magister di Universitas Indonesia. Dosen pada umumnya hanya mampu menghafal nama mahasiswa, bukan NIM-nya. Maka dengan demikian objektivitas bisa terjaga karena dosen tidak tahu sedang mengoreksi ujian siapa. Nama mahasiswa akan bisa diketahui saat dosen meng-entry nilai ujian. Ya... mungkin masih bisa ‘diakali’ tapi paling tidak mekanisme seperti ini lebih mendukung objektivitas dosen dalam menentukan kemampuan akademis seorang mahasiswa...